Cari Blog Ini

Rabu, 11 Mei 2011

askep klien dengan perubahan persepsi sensori : halusinasi

PERUBAHAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI
  1. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi
Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara atau bunyi yang berkisar dari suara sederhana sampai suara yang berbicara mengenai klien sehingga klien berespon terhadap suara atau bunyi tersebut (Stuart, 2007).
Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara manusia, hewan atau mesin, barang, kejadian alamiah dan musik dalam keadaan sadar tanpa adanya rangsang apapun (Maramis, 2005).
Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan (stimulus) misalnya penderita mendengar suara-suara, bisikan di telinganya padahal tidak ada sumber dari suara bisikan itu (Hawari, 2001 ).
Halusinasi adalah persepsi sensorik yang keliru dan melibatkan panca indera (Isaacs, 2002 ).
2. Etiologi
Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah:
a. Faktor predisposisi
1) Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang berikut:
a) Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal, temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik.
b) Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia.
c) Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem).
2) Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien.
3) Sosial Budaya
Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress.
b. Faktor Presipitasi
Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2006 ).
Faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah:
1) Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.
2) Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
3) Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor.
3. Tanda dan Gejala
a. Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul
b. Menghindar dari orang lain (menyendiri)
c. Komunikasi kurang/ tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain/ perawat
d. Tidak ada kontak mata, klien sering menunduk
e. Berdiam diri di kamar/ klien kurang mobilitas
f. Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap
g. Tidak/ jarang melakukan kegiatan sehari-hari.
4. Jenis Halusinasi
Menurut Stuart (2007) halusinasi terdiri dari tujuh jenis :
a. Pendengaran
Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien, bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.
b. Penglihatan
Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun, bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias yang menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.
c. Penghidu
Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang, atau dimensia.
d. Pengecapan
Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.
e. Perabaan
Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
f. Cenestetik
Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan makan atau pembentukan urine.
g. Kinistetik
Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.
5. Tahapan halusinasi
a. Fase I : Klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas, kesepian, rasa bersalah dan takut serta mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan ansietas. Di sini klien tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan lidah tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, diam dan asyik sendiri.
b. Fase II : Pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan. Klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang dipersepsikan. Disini terjadi peningkatan tanda-tanda sistem saraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan tanda-tanda vital (denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah), asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan untuk membedakan halusinasi dengan realita.
c. Fase III : Klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada halusinasi tersebut. Di sini klien sukar berhubungan dengan orang lain, berkeringat, tremor, tidak mampu mematuhi perintah dari orang lain dan berada dalam kondisi yang sangat menegangkan terutama jika akan berhubungan dengan orang lain.
d. Fase IV : Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi. Di sini terjadi perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri, tidak mampu berespon terhadap perintah yang kompleks dan tidak mampu berespon lebih dari 1 orang. Kondisi klien sangat membahayakan.
6. Rentang respon
Halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif individu yang berada dalam rentang respon neurobiologi.
a. Pikiran logis: yaitu ide yang berjalan secara logis dan koheren.
b. Persepsi akurat: yaitu proses diterimanya rangsang melalui panca indra yang didahului oleh perhatian (attention) sehingga individu sadar tentang sesuatu yang ada di dalam maupun di luar dirinya.
c. Emosi konsisten: yaitu manifestasi perasaan yang konsisten atau afek keluar disertai banyak komponen fisiologik dan biasanya berlangsung tidak lama.
d. Perilaku sesuai: perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian masalah masih dapat diterima oleh norma-norma social dan budaya umum yang berlaku.
e. Hubungan social harmonis: yaitu hubungan yang dinamis menyangkut hubungan antar individu dan individu, individu dan kelompok dalam bentuk kerjasama.
f. Proses pikir kadang terganggu (ilusi): yaitu menifestasi dari persepsi impuls eksternal melalui alat panca indra yang memproduksi gambaran sensorik pada area tertentu di otak kemudian diinterpretasi sesuai dengan kejadian yang telah dialami sebelumnya.
g. Emosi berlebihan atau kurang: yaitu menifestasi perasaan atau afek keluar berlebihan atau kurang.
h. Perilaku tidak sesuai atau biasa: yaitu perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian masalahnya tidak diterima oleh norma – norma social atau budaya umum yang berlaku.
i. Perilaku aneh atau tidak biasa: perilaku individu berupa tindakan nyata dalam menyelesaikan masalahnya tidak diterima oleh norma-norma sosial atau budaya umum yang berlaku.
j. Menarik diri: yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain.
k. Isolasi sosial: menghindari dan dihindari oleh lingkungan sosial dalam berinteraksi.
Berdasarkan rentang diatas diketahui bahwa halusinasi merupakan respon persepsi paling maladaptif. Jika klien sehat, persepsinya akurat, mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui panca indra (pendengaran, penglihatan, penghidu, pengecapan, dan perabaan), sedangkan klien dengan halusinasi mempersepsikan suatu stimulus panca indra walaupun sebenarnya stimulus itu tidak ada.

  1. Asuhan Keperawatan
a. Faktor predisposisi
1) Faktor perkembangan terlambat
a). Usia bayi tidak terpenuhi kebutuhan makanan, minum dan rasa aman.
b). Usia balita, tidak terpenuhi kebutuhan otonomi.
c ). Usia sekolah mengalami peristiwa yang tidak terselesaikan.
2) Faktor komunikasi dalam keluarga
a). Komunikasi peran ganda.
b). Tidak ada komunikasi.
c). Tidak ada kehangatan.
d). Komunikasi dengan emosi berlebihan.
e) .Komunikasi tertutup.
f). Orang tua yang membandingkan anak – anaknya, orang tua yang
otoritas dan komplik orang tua.
3) Faktor sosial budaya
Isolasi sosial pada yang usia lanjut, cacat, sakit kronis, tuntutan lingkungan yang terlalu tinggi.
4) Faktor psikologis
Mudah kecewa, mudah putus asa, kecemasan tinggi, menutup diri, ideal diri tinggi, harga diri rendah, identitas diri tidak jelas, krisis peran, gambaran diri negatif dan koping destruktif.
5) Faktor biologis
Adanya kejadian terhadap fisik, berupa : atrofi otak, pembesaran vertikel, perubahan besar dan bentuk sel korteks dan limbik.
6) Faktor genetic
Telah diketahui bahwa genetik schizofrenia diturunkan melalui kromoson tertentu. Namun demikian kromoson yang keberapa yang menjadi faktor penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian. Diduga letak gen skizofrenia adalah kromoson nomor enam, dengan kontribusi genetik tambahan nomor 4,8,5 dan 22. Anak kembar identik memiliki kemungkinan mengalami skizofrenia sebesar 50% jika salah satunya mengalami skizofrenia, sementara jika di zygote peluangnya sebesar 15 %, seorang anak yang salah satu orang tuanya mengalami skizofrenia berpeluang 15% mengalami skizofrenia, sementara bila kedua orang tuanya skizofrenia maka peluangnya menjadi 35 %.
b. Faktor Presipitasi
1) Kesehatan
Nutrisi dan tidur kurang, ketidaksiembangan irama sirkardian, kelelahan dan infeksi, obat-obatan system syaraf pusat, kurangnya latihan dan hambatan untuk menjangkau pelayanan kesehatan.
2) Lingkungan
Lingkungan sekitar yang memusuhi, masalah dalam rumah tangga, kehilangan kebebasan hidup dalam melaksanakan pola aktivitas sehari-hari, sukar dalam berhubungan dengan orang lain, isoalsi social, kurangnya dukungan social, tekanan kerja (kurang terampil dalam bekerja), stigmasasi, kemiskinan, kurangnya alat transportasi dan ketidakmamapuan mendapat pekerjaan.
3) Sikap
Merasa tidak mampu (harga diri rendah), putus asa (tidak percaya diri), merasa gagal (kehilangan motivasi menggunakan keterampilan diri), kehilangan kendali diri (demoralisasi), merasa punya kekuatan berlebihan, merasa malang (tidak mampu memenuhi kebutuhan spiritual), bertindak tidak seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan, rendahnya kemampuan sosialisasi, perilaku agresif, perilaku kekerasan, ketidakadekuatan pengobatan dan ketidak adekuatan penanganan gejala.
c. Perilaku
Respon perilaku klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, rasa tidak aman, gelisah, bingung, perilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan, bicara inkoheren, bicara sendiri, tidak membedakan yang nyata dengan yang tidak nyata.
Perilaku klien yang mengalami halusinasi sangat tergantung pada jenis halusinasinya. Apabila perawat mengidentifikasi adanya tanda –tanda dan perilaku halusinasi maka pengkajian selanjutnya harus dilakukan tidak hanya sekedar mengetahui jenis halusinasi saja. Validasi informasi tentang halusinasi yang diperlukan meliputi:
1) Isi halusinasi
Ini dapat dikaji dengan menanyakan suara siapa yang didengar, apa yang dikatakan suara itu, jika halusinasi audiotorik. Apa bentuk bayangan yang dilihat oleh klien, jika halusinasi visual, bau apa yang tercium jika halusinasi penghidu, rasa apa yang dikecap jika halusinasi pengecapan,dan apa yang dirasakan dipermukaan tubuh jika halusinasi perabaan.
2) Waktu dan frekuensi.
Ini dapat dikaji dengan menanyakan kepada klien kapan pengalaman halusinasi muncul, berapa kali sehari, seminggu, atau sebulan pengalaman halusinasi itu muncul. Informasi ini sangat penting untuk mengidentifikasi pencetus halusinasi dan menentukan bilamana klien perlu perhatian saat mengalami halusinasi.
3) Situasi pencetus halusinasi.
Perawat perlu mengidentifikasi situasi yang dialami sebelum halusinasi muncul. Selain itu perawat juga bias mengobservasi apa yang dialami klien menjelang munculnya halusinasi untuk memvalidasi pernyataan klien.
4) Respon Klien
Untuk menentukan sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi klien bisa dikaji dengan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami pengalaman halusinasi. Apakah klien masih bisa mengontrol stimulus halusinasinya atau sudah tidak berdaya terhadap halusinasinya.
d. Mekanisme koping
1) Regresi: menjadi malas beraktifitas sehari-hari.
2) Proyeksi: menjelaskan prubahan suatu persepsi dengan berusaha untuk mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.
3) Menarik diri: sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal.
e. Masalah keperawatan
1) Perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.
2) Resiko mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan.
3) Isolasi sosial : menarik diri.
4) Gangguan konsep diri : harga diri rendah.
5) Intoleransi aktifitas.
6) Defisit perawatan diri.
f. Diagnosa keperawatan
1) Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi pendengaran.
2) Perubahan persepsi sensori: halusinasi pendengaran berhubungan dengan menarik diri.
3) Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
4) Defisit perawatan diri berhubungan dengan intoleransi aktifitas.

Gangguan Menstruasi : Menorhagia


  1. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi
Menoragia adalah pengeluaran darah yang terlalu banyak, biasanya disertai dengan bekuan darah sewaktu menstruasi. ( Martoadisoebrata, 1981 : 37 )
2. Etiologi
Etiologi menororaghia dikelompokan dalam 4 kategori :
a. Gangguan pembukuan darah
Walaupun keadaan perdarahan tertentu seperti ITP dan penyakit van Willebrands berhubungan dengan peningkatan mennoragia namun efek kelainan pembekuan terhadap individu bervariasi pada wanita dengan trombositopenia kehilanga darah berhubungan dengan jumlah trombosit selama hamil.
b. Dysfunctional Uterine Bleeding ( DUB )
Pada dasarnya peluruhan saat haid bersifat self limited, karena haid berlangsung secara simultan di seluruh endometrium serta jaringan endometrium yang terbentuk oleh estrogen dan progesterone normal yang bersifat labil.
c. Gangguan pada organ pelvis
Berhubungan dengan fibroid pada uterus, adenommiosis, infeksi pelvis, polips endometrial, dan adanya benda asing seperti IUD.
d. Gangguan medis lainnya
Yaitu hipertiroid, dan sindro cushing, menoragia dapat terjadi pada asthenia dan yang baru sembuh dari penyakit berat karena menyebabkan kualitas miometrium yang jelek.
3. Patologis
Bila terjadi nidasi, estradiol dan progesterone akan menghambat FSH dan LH sehingga korpus luteum tidak berkembang lagi. Akibat pengaruh estradial dan progeteron mengalami akan terjadi penyempitan pembuluh darah endometrium yang berlanjut dengan iskemik. Dengan demikian, endometrium akan terlepas dan timbul perdarahan.
4. Penatalaksanaan
Tergantung pada usia pasien, keinginan untuk memiliki anak, ukuran uterus keseluruhan, dan adanya tidaknya fibroid, atau polip. Spektrum pengobatan sangat luas dimulai dari pengawasan sederhana, terapi hormon, operasi luvasif minimal seperti pengangkatan dinding endometrium atau fibroid dan histerektomi.
Dapat juga digunakan veral furrow, nettle’s, agrymony, ramuan cina dan dapat diperkirakan memperkuat uterus.
Vitex juga dianjurkan untuk mengobati mennorraghia dan sinrom pre-menstruasi. Dianjurkan juga pemberian suplemen Fe karena wanita hamil mengalami kehilangan Fe. Dan vitamin yang diberikan yaitu vitamin A, karena wanita banyak kehilangan darah hebat dan biasanya mengalami penurunan kadar vitamin A dan K.
5. Prognosis
Prognosis pada semua ketidakteraturan pada saat haid adalah baik bila diterapi dari awal saat mengalami gejala gangguan haid.
  1. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Keluhan utama
Terjadi gangguan siklus haid, dan darah yang keluar pada saat haid banyak dan waktu haid juga lebih dari normal. Jumlah darah yang keluar lebih dari normal dan pasien mengeluh gangguan siklus haid.
b. Riwayat keluarga
Pada anggota keluarga ada yang mengalami gangguan siklus haid dan pada lifestyle juga dapat mempengaruhi pada anggota keluarga.
c. Riwayat penyakit yang lalu
Pernah mengalami perdarahan hebat sebelumnya, dan pernah mengalami riwayat trauma pada genitalia, dan mengalami sebelumnya gangguan siklus haid pada masa lalu.
d. Riwayat menstruasi
Keteraturan siklus haid yang dialami sebelumnya, dan jumlah darah yang keluar pada saat haid.
e. Riwayat kontrasepsi
Pada penggunaan kontrasepsi dapat mempengaruhi perdarahan yang berlebihan dan adanya benda asing.
f. Lain-lain
Persepsi wanita terhadap kondisinya, budaya dan pengaruh kesukaan, selain itu pengalaman dengan tenaga kesehatan dan lifestyle, mekanisme koping, dan pengalaman nyeri yang oerbah dirasakan gejala yang sering timbul pada saat mengalami haid.
2. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
a. Kekurangan volume cairan b. d perdarahan saat haid
b. Gangguan rasa nyama : nyeri b. d proses terjadinya gangguan siklik haid
c. Risiko koping indiviidu inefektif b. d kurangnya pengetahuan terhadap penyebab gangguan siklik haid
d. Gangguan pola tidur b. d respon nyeri akibat gangguan siklik nyeri
e. Kelemahan b. d perdarahan yang terjadi pada saat haid

PN fc.......asli akkes punya....kiper rio ok3,ada qhodap,fernando,sang kapten varescra,sayap sinistra adeu,keyyen,penyerang ibonk,dan chandra,,,,eeeiiiitttsss da yng tinggal tu,,,sang manajer sekaligus pelati by eyyieq boemboem paoeoe......pie cyang tu...menejer kok di belakng.......yea muuphhh.....ntik lo didepan g muat tu kamera nya.......hehehehehehehheeh








ini dia pertandingan futsal kita di akkes dinkes pemprop riau 2011....unik kan ada yg pake jurus bangau berdiri 1 kaki tu,,,,hebat kan
ada juga yang bisa terbang ke atas gawang ampek temangsang.........

laaaaaaa.....ono wong kriteng.......jenenge alift.........



laaaa nek seng iki kakak adeq....seng siji preman beringin jaya seng siji agek mulai wdan gek nggolek jati diri ne,,nek seng paling cilek sek degil degil le.......





ne lah contoh anak anak beringin jaya.kec benai kab.kuansing sat nongkrong di rimbo bujan tepat nya di jalan lurus panggone wong ngetrack.....alias cerak takana juo rumah makan paling ajeg.......piye tampilan ne?ono seng nggadeg ra?
do ra nggenah kabeh kan.....yooo koyok ngene lah tampilan ne cah kene,ben elek seng penteng apik.....



lapngan hijau rengat ne,,,cowok n ceweq peduli jantung sehat ne,,meski ujan tetep ja ikutan....semangat












kota kuansing,taman kuansing,terminal lama,masjid agung kuansing dan bundaran DRP saat malam hari....jadi kangen ne kampung,,,,da lama g pulang pulang,,,lama lama bisa kayak bang toyyib ne....hehehehe